Senin, 04 Januari 2010

100 TOKOH BERPENGARUH DI DUNIA

oleh Michael H. Hart

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.



Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.

Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.

Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.

Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.

Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.

Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.

Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.

Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.

Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.

Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.

Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.

Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.

Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.

Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan

Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.

Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.




--------------------------------------------------------------------------------
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat

Baca Selengkapnya......

Minggu, 03 Januari 2010

MENGEMBANGKAN PERILAKU YANG SHALEH

Setiap orang Islam dituntut untuk selalu berusaha membangun perilaku-perilaku yang yang shaleh dalam kehidupannya sebab dengan memiliki perilaku-perilaku yang shaleh ia akan memperoleh jaminan kehidupan yang baik dunia dan di akherat. Allah berfirman yang artinya:
"Barangsiapa yang berbuat amal shaleh dari kalangan laki-laki maupun perempuan sementara ia beriman Kepada Allah, pastilah akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri mereka balasan dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka perbuat"


Hanya saja untuk mewujudkan perilaku-perilaku yang shaleh diperlukan adanya perjuangan yang gigih dan penuh kesabaran melalui pelaksanaan ibadah secara tekun dan berkelanjutan dan dengan cara menjalankan praktek-praktek ketaatan kepada Allah Swt.. Perjalanan orang Islam menuju kebaikan dan amal shaleh selalu dihadang oleh hawa nafsu yang didukung oleh syetan dari kalangan jin dan manusia yang selalu menggoda agar orang Islam terperosok kembali dalam kesesatan dan dosa yang akan menghalanginya untuk memiliki perilaku-perilaku yang shaleh.

Ibadah : Membangun Perilaku yang shaleh
Salah satu cara untuk membangun perilaku yang shaleh adalah menjalankan ibadah secara teratur dan sesuai dengan tata cara yang ditetapkan oleh Allah Swt.
Secara bahasa ibadah berarti pengambdian atau penghambaan, yakni pengabdian atau peghambaan manusia kepada Allah sebagai wujud ketaatannya kepada Nya. Sedangkan secara syar'i adalah segala aktifitas kebaikan yang dilakukan oleh manusia dalam sebagai wujud ketaatan dan ketundukannya kepada Allah guna memperoleh keridlaan Nya.
Ibadah dalam Islam meliputi seluruh aktifitas kehidupan yang bernilai baik dalam pandangan agama, hanya saja bentuknya terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Ibadah Umum (mahdlah) yakni ibadah yang tata caranya sudah ditentukan secara khusus oleh agama dan tidak ada wewenang sedikitpun bagi manusia untuk melakukan perubahan di dalamnya. Seperti: shalat, puasa, zakat, haji, wudlu, tayammum, dsb.
2. Ibadah umum (ghairu mahdlah) yakni ibadah yang tata caranya tidak ditentukan secara khusus oleh agama. Ibadah jenis ini meliputi segala bentuk kebaikan yang diatur secara umum oleh agama. Seperti bersedekah, mencari ilmu, menolong orang lain, mengajar, dsb.
Dalam ajaran Islam beribadah kepada Allah merupakan satu keharusan bagi manusia sebab itulah tujuan Allah menciptakan manusia. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran:
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
"Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada Ku" (Q.S. al-Dzariyat 56).
Ini bukan berarti bahwa Allah bersikap otoriter dengan memaksa manusia untuk beribadah kepada Nya. Akan tetapi Allah sebagai Pencipta dan Pemilik alam semesta menunjukkan jalan terbaik yang harus dilakukan manusia agar mencapai kebenaran dan kebahagiaan dalam mengarungi kehidupan, sebab pada dasarnya nilai guna dan manfaat ibadah yang dilakukan oleh manusia kembali kepada dirinya sendiri.
Andaikan seluruh makhluk di bumi ini semuanya beribadah kepada Allah, maka tak sedikitpun kejayaan dan kemulyaan Allah meningkat. Demikian juga sebaliknya, andaikan seluruh makhluk di bumi ini tak ada satupun yang beribadah kepada Allah, maka tak sedikitpun kejayaan dan kemulyaan Allah menurun. Manusia sebagai pelaku ibadah adalah yang akan menerima dan merasakan manfaat ibadah yang dilakukan baik untuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akherat.
Oleh karena ibadah merupakan wujud pengambdian dan ketaatan kepada Allah, maka tidak boleh bagi manusia melakukan ibadah sekedar formalitas dan tidak sungguh-sungguh serta tidak memahami maksudnya. Hal ini disebabkan karena ibadah dalam Islam merupakan salah satu media untuk membangun kepribadian manusia menjadi pribadi-pribadi yang baik dan berguna. Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai manusia, sembahlah(beribadahlah kepada) Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.(Q.S. Al-Baqarah 21)
Bila kita perhatikan perintah-perintah Allah tentang ibadah baik dalam al-Quran maupun al-Hadis maka akan kita temukan bahwa semua ibadah yang diperintahkan oleh Allah pada akhirnya bermuara pada pembentukan perilaku yang baik (akhlak yang mulia). Shalat misalnya yang merupakan kewajiban sehari-hari memiliki fungsi yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Hal ini disebutkan oleh Allah dalam al-Quran:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
… dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.(Q.S. Al-Ankabut 45)
Demikian juga dengan ibadah-ibadah yang lain semua memiliki pengaruh besar dalam membentuk kepribadian manusia. Tentang zakat Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(Q.S. Al-Taubah 103)
Dan tentang puasa Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,(Q.S. Al-Baqarah 183)
Dengan melihat contoh di atas dapatlah kita ketahui bahwa ada hubungan yang sangat erat antara ibadah dengan pembentukan perilaku shaleh manusia. Ini berarti bahwa kualitas ibadah yang dilakukan oleh manusia akan menentukan perilaku-perilaku shalehnya.

Dosa : Pintu Gerbang Perilaku Negatif
Prbuatan dosa merupakan pintu penghalang terwujudnya perilaku-perilaku yang shaleh. Yang dimaksud dengan perbuatan dosa adalah pelanggaran terhadap batas-batas yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Pelanggaran itu adakalanya berupa melakukan larangan-larangan Allah dan adakalanya berupa meninggalkan perintah-perintah Allah.
Perilaku manusia dalam melakukan dosa sudah terjadi sejak awal sejarah kehidupan manusia ketika Nabi Adam a.s. dan istrinya Hawa melanggar aturan Allah yang mengakibatkan keduanya harus keluar dari sorga. Kondisi seperti itu terus berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia sampai saat ini.
Dalam kehidupan saat ini fenomena tentang perilaku-perilaku dosa semakin banyak terjadi, bahkan banyak sekali perbuatan dosa yang sudah dianggap sebagai "kewajaran" (atau tidak lagi dianggap sebagai dosa) karena sudah menjadi trend kehidupan, gaya hidup, atau budaya populer yang sering dimunculkan di media-media massa.
Di antara perbuatan-perbuatan dosa yang saat ini dianggap sebagai hal yang wajar oleh sebagian orang (khususnya remaja) adalah:
1. Bergandeng tangan antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya
2. Berpelukan antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya ketika naik sepeda motor atau lainnya
3. Berciuman antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya
4. Berkhalwat (berduaan) antara remaja putra dan remaja putri yang bukan muhrimnya
5. Memakai busana yang ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuh di kalangan remaja putri
6. Memakai busana minim yang menampakkan aurat (seperti paha, punggung, pusar, dan anggota tubuh lainnya) di kalangan remaja putri
7. Minum-minuman keras dengan berbagai jenis dan namanya
8. Melakukan hubungan sex pra nikah
9. Membuat tato di tubuh
10. Laki-laki berpenampilan atau berperilaku seperti wanita atau sebaliknya
11. Meninggalkan shalat
12. Membentak atau berani melawan orang tua
13. Dll.
Karena seringnya perbuatan-perbuatan dosa itu ditampilkan di media-media massa dan dicontohkan oleh para artis dan actor di senetron banyak yang mengira bahwa perbuatan itu merupakan gaya hidup orang modern yang harus selalu ditiru dan diikuti agar tidak dianggap "kuno", "ketinggalan zaman, atau kuper (kurang pergaulan) di tengah-tengah komunitasnya.
Islam sebagai agama yang membawa rahmat untuk alam semesta telah melarang setiap orang muslim untuk melakukan dosa dan bahkan mewajibkan padanya untuk terus berusaha menjauhi perbuatan dosa. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:"Apa saja yang telah aku larang maka jauhilah, dan apa saja yang telah aku perintahkan maka lakukanlah semampu yang dapat kamu lakukan" (H.R. Muslim).
Untuk itu Allah Swt. mengancam kepada siapa saja yang melakukan dosa dengan firman Nya yang artinya:"Barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul Nya dan melanggar batas-batas (aturan-aturan) Nya maka Dia akan memasukkan orang itu ke neraka yang kekal di dalamnya dan ia akan mendapatkan siksa yang pedih (Q.S. al-Nisa'14)
Perbuatan dosa apapun bentuknya sekecil apapun kadarnya akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Perbuatan dosa menjadi salah satu pintu lahirnya perilakuperilaku yang negative dan menyimpang pada diri manusia.
Ibnu al-Qayyim al-Jauziah menyebutkan beberapa akibat negatif dari perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia, di antaranya:
1. Menghambat perolehan ilmu yang bermanfaat
2. Menghambat perolehan rizki yang baik
3. Menjauhkan hubungan dengan Allah dan dengan manusia
4. Menghilangkan cahaya hati sehingga hati menjadi gelap (tidak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk)
5. Merendahkan derajat di hadapan Allah dan manusia
6. Memandang remeh kebaikan sehingga enggan melakukan
7. Melemahkan ketaatan kepada Allah sehingga malas beribadah
8. Membuka pintu-pintu dosa yang lain
9. Menjadikan hati selalu gelisah (tidak memiliki ketenangan batin)
10. Dan secara komunal, dosa akan mendatangkan siksa dari Allah.

Meskipun Islam telah memberikan petunjuk yang sangat jelas untuk mengantarkan manusia menuju kebahagiaan di dunia dan akherat dengan cara mengikuti aturan-aturan Allah dan meninggalkan dosa-dosa, akan tetapi kenyataannya masih banyak sekali orang yang melanggar aturan Allah dan terus melakukan dosa.
Semoga Allah membuka hati kita menemukan kebenaran yang hakiki dan menghiasai diri kita dengan perilaku-perilaku yang shaleh agar kita memeprleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. Amin


Baca Selengkapnya......

KONFERENSI PERS SE-ABAD MUHAMMADIYAH

BERKIPRAH TAK KENAL LELAH
MENDIDIK DAN MENCERAHKAN BANGSA
MENUJU PERADABAN UTAMA


Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1430 H bertepatan dengan 25 November 2009 Muhammadiyah genap 100 tahun atau satu abad dari usia kelahirannya pada 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 November 1912 M. Dalam memanfaatkan momentum milad (kelahiran) Muhammadiyah tersebut Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

1. Muhammadiyah mensyukuri usia satu abad sebagai berkah Allah atas pengkhidmatan yang selama ini dilakukan dalam memajukan dan mencerahkan kehidupan bangsa. Muhammadiyah juga menjadikan usia satu abad sebagai momentum penguatan gerakan (revitalisasi) untuk memperbaiki, menyempurnakan, dan mengembangkan seluruh potensi serta infrastruktur gerakan agar mampu berkiprah optimal dan tampil menjadi gerakan Islam yang terbesar/unggul secara kualitatif.

2. Muhammadiyah memasuki perjalanannya seratus tahun ke depan bertekad untuk mengembangkan pembaruan (tajdid) fase kedua. Pada babak baru tersebut Muhammadiyah melakukan transformasi gerakan untuk menawarkan pemikiran-pemikiran alternatif, dinamisasi masyarakat madani yang semakin otonom dan bermoral utama, mengembangkan basis kekuatan ekonomi, penguatan gerakan perempuan, dan reformasi amal usaha yang bertumpu pada sistem organisasi yang modern, progresif, dan mandiri. Dalam kehidupan bangsa akan semakin dikembangkan peran-peran kebangsaan yang memberi sumbangan signifikan dalam transformasi kehidupan bangsa, khususnya dalam merekonstruksi pranata-pranata sosial masyarakat berbasis kebudayaan Indonesia yang modern dan relijius. Dalam dunia kemanusiaan global dikembangkan Islam berwajah damai dan berkemajuan sesuai risalah Islam berwawasan khaira ummah (bangsa yang unggul) dan rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

3. Muhammadiyah mengharapkan agar segenap anak bangsa, lebih-lebih para pejabat tinggi negara dan elit bangsa memanfaatkan amanat rakyat dengan sepenuh jiwa raga demi terwujudnya Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, damai, sejahtera, bermartabat, dan berdaulat sebagaimana cita-cita nasional. Belajarlah kepada para pendiri bangsa tentang jiwa kearifan, keberanian, kecerdasan, pengabdian, pengorbanan, dan kenegarawanan sehingga mampu menjadi teladan dalam mengurus bangsa/negara dengan sebaik-baiknya. Jauhkan diri dari sikap angkuh, kebal kritik, dan ajimumpung dalam menjalankan mandat rakyat.

4. Muhammadiyah memandang penting adanya rekonstruksi visi dan karakter di tubuh bangsa ini demi kelangsungan hidup dan kejayaan masa depan Indonesia. Pemberantasan korupsi hendaknya benar-benar dilakukan dengan tegas, berani, tidak tebang pilih, dan mampu menyeret para koruptor besar. Hukum mesti ditegakkan dengan tegas, sistemik, memenuhi rasa keadilan, serta tidak terjebak pada logika legal-formal yang memberi ruang leluasa bagi para mafia, pejabat korup, makelar kasus, dan para koruptor untuk mempermainkan celah hukum. Politik dan kekuasaan hendaknya peka terhadap denyut nadi dan aspirasi publik, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas lainnya, tidak menghalalkan segala cara, dan menjauhkan diri dari KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) yang kini menunjukkan tanda-tanda menguat kembali saat ini.

5. Muhammadiyah mengajak kepada seluruh warga bangsa agar memiliki visi dan karakter yang berbasis kebudayaan Indonesia yang utama. Kembangkan budaya hidup relijius, rukun, damai, dan etos kemajuan untuk tumbuh menjadi bangsa yang unggul dan berperadaban luhur. Hendaknya menjauhkan diri dari segala bentuk kekerasan, sikap hidup permisif dan konsumtif, dan merendahkan mutu. Bangkitkan kemandirian, kecerdasan, kedisplinan, moralitas, kehormatan, dan martabat diri sebagaimana layaknya bangsa yang besar agar mampu hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berperadaban tinggi. Karena itu diperlukan pilar-pilar civil society yang solid didukung oleh kepemimpinan nasional yang visioner dan berkarakter kuat.


Yogyakarta, 6 Dzulhijjah 1430 H / 23 November 2009 M

Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ketua Umum Sekretaris Umum



Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A Drs. H. A. Rosyad Sholeh


Baca Selengkapnya......