BERKIPRAH TAK KENAL LELAH
MENDIDIK DAN MENCERAHKAN BANGSA
MENUJU PERADABAN UTAMA
Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1430 H bertepatan dengan 25 November 2009 Muhammadiyah genap 100 tahun atau satu abad dari usia kelahirannya pada 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 November 1912 M. Dalam memanfaatkan momentum milad (kelahiran) Muhammadiyah tersebut Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan pernyataan sebagai berikut:
1. Muhammadiyah mensyukuri usia satu abad sebagai berkah Allah atas pengkhidmatan yang selama ini dilakukan dalam memajukan dan mencerahkan kehidupan bangsa. Muhammadiyah juga menjadikan usia satu abad sebagai momentum penguatan gerakan (revitalisasi) untuk memperbaiki, menyempurnakan, dan mengembangkan seluruh potensi serta infrastruktur gerakan agar mampu berkiprah optimal dan tampil menjadi gerakan Islam yang terbesar/unggul secara kualitatif.
2. Muhammadiyah memasuki perjalanannya seratus tahun ke depan bertekad untuk mengembangkan pembaruan (tajdid) fase kedua. Pada babak baru tersebut Muhammadiyah melakukan transformasi gerakan untuk menawarkan pemikiran-pemikiran alternatif, dinamisasi masyarakat madani yang semakin otonom dan bermoral utama, mengembangkan basis kekuatan ekonomi, penguatan gerakan perempuan, dan reformasi amal usaha yang bertumpu pada sistem organisasi yang modern, progresif, dan mandiri. Dalam kehidupan bangsa akan semakin dikembangkan peran-peran kebangsaan yang memberi sumbangan signifikan dalam transformasi kehidupan bangsa, khususnya dalam merekonstruksi pranata-pranata sosial masyarakat berbasis kebudayaan Indonesia yang modern dan relijius. Dalam dunia kemanusiaan global dikembangkan Islam berwajah damai dan berkemajuan sesuai risalah Islam berwawasan khaira ummah (bangsa yang unggul) dan rahmatan lil-‘alamin (rahmat bagi semesta alam).
3. Muhammadiyah mengharapkan agar segenap anak bangsa, lebih-lebih para pejabat tinggi negara dan elit bangsa memanfaatkan amanat rakyat dengan sepenuh jiwa raga demi terwujudnya Indonesia sebagai bangsa dan negara yang maju, adil, makmur, damai, sejahtera, bermartabat, dan berdaulat sebagaimana cita-cita nasional. Belajarlah kepada para pendiri bangsa tentang jiwa kearifan, keberanian, kecerdasan, pengabdian, pengorbanan, dan kenegarawanan sehingga mampu menjadi teladan dalam mengurus bangsa/negara dengan sebaik-baiknya. Jauhkan diri dari sikap angkuh, kebal kritik, dan ajimumpung dalam menjalankan mandat rakyat.
4. Muhammadiyah memandang penting adanya rekonstruksi visi dan karakter di tubuh bangsa ini demi kelangsungan hidup dan kejayaan masa depan Indonesia. Pemberantasan korupsi hendaknya benar-benar dilakukan dengan tegas, berani, tidak tebang pilih, dan mampu menyeret para koruptor besar. Hukum mesti ditegakkan dengan tegas, sistemik, memenuhi rasa keadilan, serta tidak terjebak pada logika legal-formal yang memberi ruang leluasa bagi para mafia, pejabat korup, makelar kasus, dan para koruptor untuk mempermainkan celah hukum. Politik dan kekuasaan hendaknya peka terhadap denyut nadi dan aspirasi publik, mengedepankan kepentingan bangsa dan negara di atas lainnya, tidak menghalalkan segala cara, dan menjauhkan diri dari KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) yang kini menunjukkan tanda-tanda menguat kembali saat ini.
5. Muhammadiyah mengajak kepada seluruh warga bangsa agar memiliki visi dan karakter yang berbasis kebudayaan Indonesia yang utama. Kembangkan budaya hidup relijius, rukun, damai, dan etos kemajuan untuk tumbuh menjadi bangsa yang unggul dan berperadaban luhur. Hendaknya menjauhkan diri dari segala bentuk kekerasan, sikap hidup permisif dan konsumtif, dan merendahkan mutu. Bangkitkan kemandirian, kecerdasan, kedisplinan, moralitas, kehormatan, dan martabat diri sebagaimana layaknya bangsa yang besar agar mampu hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berperadaban tinggi. Karena itu diperlukan pilar-pilar civil society yang solid didukung oleh kepemimpinan nasional yang visioner dan berkarakter kuat.
Yogyakarta, 6 Dzulhijjah 1430 H / 23 November 2009 M
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ketua Umum Sekretaris Umum
Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A Drs. H. A. Rosyad Sholeh
0 komentar:
Posting Komentar